Kau tahu benar betapa dia
mencintaimu. Dia selalu memperlakukanmu seperti seorang putri. Istimewa. Tapi
kamu masih saja sibuk mencari kebenarannya, mencari kesungguhannya. Kau masih
saja sibuk membandingkan dia dengan seseorang yang kini kau miliki. Bahkan dia
yang kau miliki itu tidak pernah bisa menerimamu dengan apa adanya dirimu
seperti dia menerima semua yang ada pada dirimu. Kamu masih saja sibuk
memikirkan dua hal itu.
Dari ceritamu, aku tahu benar
bahwa kamu tahu dengan pasti bahwa dia mencintaimu. Dia tak ingin kehilanganmu
tapi kamu masih saja meragu. Tentang cinta. Tentang perasaan. Selalu saja
klise. Tapi, perasaan tetaplah perasaan. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas
bagai bintang dilangit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus
matematika.
Tentang perasaan yang katanya
tidak bisa dipaksakan padahal tidak dipungkiri jika kamu menyayangi pasti
selalu ada rasa ingin memiliki, ingin melindungi. Tentang perasaan yang katanya
lebih baik mengagumi dalam diam padahal tidak dipungkiri betapa sakitnya
memendam semua itu sendirian. Perasaan bukan angka yang bisa dihitung berapa
besar jumlahnya. Perasaan itu tak terkira, tak terhingga. Lalu harus bagaimana?
Untuk melihat perasaan mana yang tulus. Lihatlah dengan mata hati. Karena ketulusan
akan terasa sampai ke hati. Ia akan menenangkan hati. Tak ada ragu, tak ada
gundah ataupun gelisah. Yang ada hanya kebahagiaan dan semua terasa indah.
Seharusnya perasaan itu
meyakinkanmu bukan membuatmu ragu. Seharusnya perasaan itu membahagiakanmu
bukan membuatmu bimbang.



