Buscar

Postingan pertama ditahun 2015 "Masih tentang kamu"

Aku telah jauh berjalan. Meninggalkan semuanya. Kenangan itu. Orang-orang yang kukasihi. Aku pergi sendiri. Menyendiri. Dengan hanya membawa topeng keceriaan. Aku mencoba menguatkan hati setiap harinya. Mencoba bahagia.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan bahkan sekarang sudah enam bulan aku pergi.

Aku sudah bisa menghilangkan perasaan itu padamu. Aku sudah membuangmu dari dalam hatiku. Hatiku sudah kubersihkan, kosong tak bersisa.

Tapi kamu masih tinggal diingatanku. Sesuatu yang tak bisa kubuang dengan inginku. Kamu masih disana. Membuatku kesal, jengkel hingga kelelahan.

Sampai hari ini aku masih bisa bertahan. Menikmati pekerjaanku. Menyibukkan diriku. Tetap berkomunikasi dengan orangtua dan adikku. Serta berbagi kabar dengan onnieku.

Tapi beberapa menit lalu aku mencoba login media sosialku. Ada jejakmu ditimelineku. Karena rasa penasaran, aku mengunjungi akunmu.

"Oh kamu masih kamu yang dulu. Kamu baik-baik saja" itu yang dapat kusimpulkab dari kunjunganku. Hingga sampai aku membaca komentar salah satu temanmu. Komentar mengenai wanitamu. Seketika rasanya ada yang menusuk didadaku. Sakit, nyeri, hingga aku tersadar ternyata hatiku belum bisa biasa saja jika hal itu mengenaimu. Hatiku masih bereaksi berlebihan.

Apa yang harus aku lakukan?
Ottoekhe?

Semoga ini yang terakhir

Selamat malam tuan
Maafkan aku masih menjadikanmu nafas dalam setiap tulisan-tulisanku
Maafkan aku masih terbayang wajahmu ketika menuliskan kata demi kata itu
Maafkan aku

Aku telah rela melepaskanmu tuan
Jika itu yang memang harus aku lakukan
Untuk kebahagiaanmu
Demi kebahagiaanku

Kau tahu tidak tuan?
Aku sering terbayang wajah wanitamu
Menerka-nerka secantik apakah rupanya
Hingga kamu lebih memilih dia
Setelah memupuk rasa dalam hatiku

Kau tahu tidak tuan?
Rasa sakit itu menguatkanku
Meski tak ku pungkiri
Aku hancur lagi, karenamu

Kau harus tahu tuan
Melepaskanmu sama dengan aku tidak ingin bertemu denganmu lagi
Meski katanya aku harus berdamai dengan kenyataan
Iya aku berdamai dengan kenyataan, tapi tidak ingin bertemu
Itulah pilihanku

Tidak apa
Aku juga tidak mungkin memaksa
Karena sesuatu yang terpaksa itu buruk adanya
Dan aku tidak akan mengambil kunci yang bukan untukku
Tidak akan dan tidak mau

Aku tahu diri
Karena itu aku ingin memasuki hati
Yang memang terbuka untukku
Yang memang menjadikanku ratu

Ah, selamat tinggal tuan
Mari kita sama-sama berbahagia