Eunni. Aku nggak pernah tau apa maksud Allah memperkenalkan kamu padaku. Aku nggak pernah tau apa artinya kita ditakdirkan untuk berteman sedekat ini. Aku nggak pernah tau eunni. Tapi aku nggak perduli. Walaupun ada sejuta alasan mengapa kita diperkenalkan aku tidak akan perduli. Yang aku tau aku bahagia, aku bersyukur karena Allah menjaga hubungan pertemanan kita.
Eunni. Bersamamu aku belajar banyak. Hidupku seperti dongeng yang dulunya tidak aku percayai. Aku jadi mengerti bahwa untuk menjadi "sesuatu" kita harus berjuang dengan susah payah. Kita harus berkorban banyak. Bahkan kita harus melepas seseorang yang kita sayangi hanya untuk menjadi "sesuatu" itu.
Eunni. Aku nggak perduli kalau akhirnya nanti kamu akan debut atau tidak. Aku nggak perduli eunni. Dimataku, untukku kamu sudah menjadi seseorang yang berharga. Kamu sudah lebih dari membanggakan. Aku yang tau bagaimana susahnya kamu berjuang. Aku yang tau bahwa mimpimu itu nyata. Bahwa kamu bukan seorang pembohong. Bukan hanya seorang pemimpi kosong. Tapi kamu bisa menggapai mimpimu. Kamu bisa eunni. Jadi nggak usah perdulikan kata mereka.
Eunni. Kamu harus tau bahwa dalam hidupmu kamu dikelilingi orang-orang yang menyayangimu. Kamu punya aku eunni, kamu selalu punya aku. Teman-teman satu kelompokmu di ulzzang juga menyayangimu. Dan aku lega kamu disana dikelilingi orang-orang yang baik.
Eunni. Dalam hidup memang tidak selamanya apa yang kita inginkan selalu kita dapatkan. Itu cara Allah untuk membuat kita sabar eunni. Dari situ kita belajar keikhlasan dalam menerima. Karena itu eunni, selalu lah persiapkan hati untuk hal-hal yang menyakitkan bukan untuk hal-hal yang membahagiakan. Jadi ketika keinginan tidak sejalan dengan kenyataan, kita mampu menerima dan tetap berjalan tanpa jatuh dan terpuruk. Kita bisa kuat eunni.
Eunni. Mungkin yang kamu liat dari aku, aku selalu bisa tersenyum kan. Sebenarnya hatiku ini sudah hancur sehancur hancurnya. Nggak berbentuk eunni. Tapi kesakitan itu yang membuatku kuat. Aku jadi tahan banting. Aku jadi tidak mudah untuk menangis. Aku masih bisa tersenyum dan tertawa menyembunyikan semuanya. Walaupun sebenarnya, memanipulasi hati itu melelahkan. Membohongi perasaan sendiri itu rasanya lebih menyakitkan. Tapi dengan begitu aku bisa bertahan. Aku tidak akan dijatuhkan lebih dalam lagi.
Eunni. Aku bukan orang baik. Aku bukan siapa-siapa. Bahkan hanya sedikit orang yang tahan dengan sikapku. Tapi kamu bertahan eunni. Kamu bertahan. Kamu menyayangiku seperti adikmu sendiri. Tak perduli seberapa aku menyuekimu, seberapa aku tidak memperdulikanmu. Kamu tetap sayang aku. Kamu tetap baik sama aku. Kamu tau eunni? Sebelumnya, nggak ada orang yang sebegini sayangnya sama aku. Nggak ada orang yang sebegini perdulinya sama aku. Aku bukan siapa-siapa. Aku seringnya tidak di anggap. Tapi kamu memperlakukanku seolah-olah aku barang berharga. Eunni terimakasih atas segalanya. Ketulusanmu membuka mataku.
Eunni. Jangan pernah bersedih dan jangan pernah menyalahkan dirimu atas sesuatu yang diluar kendalimu. Kita manusia tentu memiliki kekurangan. Dan itu bukan salahmu.
Eunni. Karena sifatmu yang penyayang dan perdulian, kamu jadi disayangi oleh banyak orang. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak pantas menerima kasih sayang dari seseorang. Kamu baik dan kamu pantas menerimanya eunni.
Eunni. Apapun yang terjadi, kuatlah. Apapun yang terjadi tegarlah. Apapun yang terjadi, tersenyumlah. Kamu tidak sendiri, dan tidak akan pernah sendiri. Ada aku eunni. Ada aku, dongsaengmu. Jadi, berbahagialah. Jangan bersedih. Senyumlah eunni.
Untuk Kesayangan
Aku sangat bersyukur pada Allah telah membawa mereka masuk dalam kehidupanku. Walaupun kami dipersatukan agak terlambat tapi setidaknya kami pernah dipersatukan. Mereka sahabat sekaligus saudara yang bisa menerima aku apa adanya. Dimata orang lain aku mungkin sangat menyebalkan tapi aku bersyukur masih ada mereka yang dapat bertaham dengan sifatku yang menyebalkan ini hehe
Namanya Eva Apriliyana Rizki. Aku manggilnya Kak Eva. Kami sudah dekat dari semester berapa ya aku lupa. Yang pasti karena absen kami berurutan dan waktu itu kami satu kelompok di mata kuliah kimia organik dari situ kami sudah dekat. Kak Eva sudah seperti kakak ku sendiri aku senang ketika mendengar dia memanggil aku dengan sebutan "Adek". Kak Eva orangnya baik, sangat baik malah. Sabar. Aku mungkin harus belajar sabar sama dia hehe. Dia tidak pernah menghiraukan apapun perkataan orang lain tentang dia yang buruk-buruk. Terserah orang lain mau berkata apa. Toh hidup dia yang menjalaninya. Kak Eva pintar, anaknya santai, sangat cuek, polos, Kak Eva seperti mempunyai dunianya sendiri. Tertutup dan jarang menceritakan apa yang tengah dia rasakan. Orang-orang bilang dia lelet tapi menurutku yah dia memang seperti itu mau bagaimana lagi. Yang kadang membuat kesal itu, jika sangat butuh dia, dia pasti susah untuk dihubungi.
Namanya Sari Shara Ayudia. Kami memanggilnya Sarah. Sarah dekat dengan Kak Eva dan dari situlah aku dan yang lainnya juga dekat dengan Sarah. Dari kami berempat Sarah yang beda kelas dengan kami tapi itu tidak menjadi alasan untuk kami tidak bersahabat kan?. Sarah anaknya lucu, kalau sudah ngomong susah berhenti. Manja kalau telponan sama pacarnya hahaha. Sarah suka kelahi sama Bee tapi kalau ga ketemu becari-carian. Anaknya ga sabaran hahaha. Pemikirannya bagus. Pekerja keras. Dan sama seperti Kak Eva, dia anaknya santai. cuek juga. Aku ga tau kenapa ada orang-orang yang ga suka sama dia, mungkin orang-orang itu ga bisa nerima sifatnya dia. Tapi bukankah manusia memiliki sifat baik dan buruk kalau ada sifat baik kenapa harus menilai sifat buruk seseorang. Benar kan?. Hmmm apa lagi yah. Oh iya, aku pernah nangis sama Sarah, ketika kami membicarakan perihal hati. Dan teman yang baik tidak hanya selalu ada ketika bahagia tetapi ketika kamu sedihpun bahkan ketika tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau berteman denganmu, teman sejati akan tetap berada disampingmu.
Namanya Dita Rani Pupitasari. Kami memanggilnya Dita tapi lebih sering memanggilnya dengan sebutan "Nyai". Pertama kali ngeliat dia aku ga pernah berpikiran akan berteman dengan dia seperti ini. Karena aku melihat dia anaknya orang kaya gitu. Dari dulu aku ga pernah mau berteman dengan anak orang kaya. Takut aku ga bisa ngikutin pergaulan mereka. Ternyata setelah dekat dan mengenalnya. Dia tidak seperti bayanganku. Anaknya baik, ga sombong walaupun di antara kami dia yang paling modis haha (dan baru kemarin dia bertanya sama aku, modis itu yang seperti apa? hahahaha). Anaknya manja, cerewet, kalau sudah nanya sampai ke akar-akar, kita harus jelas sejelas-jelasnya menjelaskan tentang pertanyaan dia. kadang aku sampai bingung harus bagaimana menjelaskannya hahaha. Kami berlima sering menginap dirumahnya. Lalu, dia anaknya juga cuek. Kalau marah ngeri. Kata orang yang tidak mengenalnya, dia orangnya jutek. Dan bantak orang yang takut sama dia, apalagi teman-teman kami yang cemen itu hahahaha.
Namanya Eka Erningsih. Kami memanggilnya dengan sebutan Bee. Diantara kami berlima, Bee sendiri yang berbeda agama. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk kami tidak berteman. Bahkan dengan itu kami belajar bagaimana toleransi dalam beragama. Bee anaknya baik, lucu, cantik. Bee jadi teman senasib sepenanggunganku selama mengurus penelitian. Kadang kami kelahi karena hal-hal sepele. Misalnya intonasi bicaraku yang terlalu tinggi atau sifat kasarku. Tapi untunglah itu tidak membuat kami tidak berteman lagi hehe. Yang agak sedikit aku ga suka dari Bee adalah dia sering mengeluh. Sering mengeluhkan apa saja. Hidup memang tidak mudah Bee, tapi kita selalu punya pilihan dan selalu punya jalan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Bukankah Tuhan selalu menggenggam mimpi-mimpi kita?. Jangan pernah merasa sendirian. Ada kami. Jangan sungkan untuk berbagi karena itulah mengapa kami ada untukmu, kami ada untuk membantumu memikul sedikit bebanmu. Jangan sering mengeluh meski hidup terasa berat. Cobalah mengubah pola pikir, lihat bahwa dibalik hal-hal yang negatif pasti ada hal-hal yang positif walaupun tidak besar kadarnya. Setidaknya masih ada harapan. Jangan cepat jatuh ketika sekali gagal. Terus bangkit meski rasanya tertatih. Karena hidup itu indah untuk orang-orang yang tidak gampang untuk menyerah.
itulah mereka. Sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku. Teman-teman yang membantuku untuk bertahan. Yang mengajariku banyak hal. Seperti kata Kak Eva "Mereka adalah pelangiku". Yang melukiskan warna dalam hidupku. Mengingatkanku bahwa aku tidak pernah sendirian. Bahwa aku selalu dan akan selalu memiliki mereka. Aku sangat bersyukur atas takdir Allah yang menuliskan atas pertemanan ini. Bersama mereka juga aku merasa dekat dengan Allah. Selalu ingat bagaimana pun kerasnya hidup, bagaimana pun sakitnya hati, kita tetap masih bisa bertahan karena Kita memiliki Allah. Terima kasih atas pertemanan indah ini, atas persaudaraan indah ini.
Tapi maaf boleh tidak aku menangis? Aku sudah tidak bisa menahan air mata ini lagi. Aku tahu setiap pertemuan pasti ada perpisahan tapi rasanya mengapa begitu cepat. Tanggal 14 September nanti adalah hari bahagia kita semua. Kita akan di wisuda dan di sumpah sebagai Tenaga Tekhnis Kefarmasian. Tapi besoknya tanggal 15 september Sarah sudah harus langsung pulang ke Paser karena tanggal 16 nya sudah harus masuk kerja dan tanggal 16 September Kak Eva dan Dita berangkat ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan mereka hingga profesi Apoteker. Aku ikut bahagia tas jalan mereka. Tapi aku juga sedih.
Kalian tahu tidak ketika kemarin di warung bakso aku bilang "Masa mamak ku ngadain selamatan nanti yang datang cuma Bee?" ketika mengatakan itu rasanya aku ingin menangis. Tapi aku tidak ingin menangis di depan kalian.
Tidak apa-apa. Mungkin sebentar lagi kita akan berjalan di jalan kita masing-masing. Semoga pada akhirnya nanti kita masih akan tetap bisa bertemu. Pada muara yang sama. Dihari yang lebih baik dimana tidak ada kesedihan yang ada hanya kebahagiaan.
Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)




