Buscar

DUA BUNGA


               Hari yang sungguh sangat indah. Segala yang ada di bumi bertasbih pada Allah yang Esa. Matahari cerah menerangi bumi dengan cahayanya, member kehangatan pada hati dua insane yang sedang dipersatukan. Atas nama cinta semua makhluk Allah hari ini ikut mendoakan bersatunya dua insane yang dipertemukan karena Allah.
                Senyum tak lepas dari wajah mereka yang menyalami setiap undangan yang dating dan member doa untuk mereka. Inilah hari yang sangat berbahagia bagi Zhafira dan Hadi. Dalam indahnya ikatan sebuah pernikahan kini mereka telah menyempurnakan sebagian ibadah mereka pada Allah.
                “selamat ya akhi. Semoga pernikahannya penuh berkah dan dapat menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan diberi anak-anak yang sholeh serta sholeha”. Kata Ansyari menyalami Hadi dan tersenyum pada Zhafira.
                “syukron ya akhi. Terima kasih juga sudah menyempatkan diri untuk dating. Cepat menyusul yaakhi”. Kata Hadi sambil bercanda.
                Alam masih ikut bernyanyi  dan melantunkan kata-kata cintanya atas kebahagiaan Zhafira dan Hadi. Semua orang yang hadir dalam acara tersebut merasa bahagia. Tak putus-putusnya doa Zhafira panjatkan dalam hati untuk segala nikmat yang telah dia rasakan sekarang. Tak terasa hari pun beranjak sore, matahari kian redup memancarkan cahayanya sehingga menjadi senja yang indah. Lambat laun senja itu pun berubah menjadi malam. Acara resepsi pernikahan yang membahagiakan itu pun telah usai.
***
                Didalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Dengan hiasan yang sangat indah disetiap sudutnya. Adapun bunga mawar putih sebagai tanda kesucian cinta mereka. Didalam ruangan itulah kini mereka berada. Kamar pengantin. Zhafira duduk di tepi tempat tigur dengan Hadi yang kini telah resmimenjadi suaminya berada dihadapannya. Mereka saling tersenyum dan mereka pun larut dalam suasana hati dan pikiran masing-masing.
                “Ya Allah terima kasih kau telah memberiku seorang suami yang Insya Allah dapat membimbingku untuk lebih mengenalmu. Seorang pemimpin dalam kehidupan rumah tanggaku. Sungguh aku sangat bersyukur kau memilihkannya untukku sehingga kini dia berada dihadapanku”. Doa Zhafira dalam hati.
                “Ya Allah terima kasih kau telah memberiku seorang istri yang sholeha. Istri yang kelak akan mendidik anak-anakku tentang ajaran agamamu. Sungguh wanita yang ada dihadapanku kini tidak hanya cantik fisiknya saja tetapi, hatinya jauh lebih cantik”. Doa Hadi dalam hati.
                Setelah lama bertatap-tatapan. Hadi pun mendekatkan diri pada Zhafira. Dibacakannya sebuah doa pada ubun-ubun Zhafira. Betapa lengkapnya kebahagiaan Zhafira pada hari itu. Sungguh dia merasa menjadi wanita paling bahagia didunia. Setelah itu mereka bercengkrama dalam indahnya cinta dan saling berbagi cerita tentang kehidupan mereka.
                Sungguh Cintamu Sangat Indah Allah!
***
                Hari-hari setelah pernikahan mereka lewati dengan sangat bahagia. Selesai acara resepsi kemarin untuk 3 hari mereka menginap dirumah orang tua Zhafira. Tepat pada hari ke empat mereka akan pindah kerumah mereka sendiri. Rumah itu adalah rumah Hadi yang dia beli dengan hasil tabungan dari uang gajinya. Rumah mungil yang minimalis. Sederhana tapi elegan. Seperti rumah yang di inginkan oleh  Zhafira. Halaman depannya tidak terlalu luas. Ada taman bunga mawar kecil dihalaman tersebut. Disisi kiri tumbuh pohon yang sangat rindang dengan kursi dibawahnya. Cocok untuk tempat bersantai. Ada 4 ruang dalam rumah itu. 2 untuk kamar tidur, 1 untuk tempat sholat, dan 1 lagi dijadikan perpustakaan kecil, lalu ada dapur dan kamar mandi. Dalam rumah inilah nanti mereka akan bersama-sama mengukir cerita cinta mereka. Sungguh indah kehidupan yang Allah berikan pada mereka.
                Tak terasa 12 bulan sudah mereka bersama mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, kebahagiaan mereka belum lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Pertanda buah cinta dari mereka. Anak penghias istana mereka yang sederhana. Ya! Mereka belum dikaruniai seorang anak oleh Allah.
                “Mas. Allah ko belum juga mengkaruniai kita anak ya?”. Tanya Zhafira pada Hadi ketika mereka sedang duduk bersantai diruang keluarga sambil menonton tv.
                “Entahlah dik. Mungkin Allah masih menginginkan kita untuk bersabar”. Jawab Hadi lembut.
                Kata-kata Hadi tidak juga membuat gundah dihati Zhafira hilang. Sebagai seorang istri tentu dia ingin memberikan anak pada suaminya, agar lengkap kebahagiaan mereka. Satu hal yang paling dia takutkan adalah dia takut tidak dapat memberikan anak untuk suaminya. Dengan perasaan yang masih gundah Zhafira berkata dalam hatinya ”Mungkin mas Hadi benar. Kami masih harus bersabar. Semoga saja Allah mendengar doa-doa kami”.
                Beberapa hari setelah pembicaraannya dengan mas Hadi waktu itu. Zhafira masih terpikirkan akan pembicaraannya tersebut. Hari ini dengan diliputi rasa yang tidak tentu. Zhafira memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Dia ingin tahu apakah factor yang menyebabkan mereka sampai saat ini tidak diberi anak. Apakah karena Zhafira mandul atau karena Allah yang masih belum mau memberikan mereka keturunan.
                Sesampainya ditempat pemeriksaan. Zhafira menceritakan maksudnya dating menemui Dr. Nurina ini. Setelah mengetahui keluhan Zhafira Dr. Nurina pun melakukan pemeriksaan pada Zhafira. Setelah selesai melakukan pemeriksaan Zhafira disuruh beristirahat sebentar sambil menunggu hasil pemeriksaan.
                Setelah istirahat makan siang dan sholat dzuhur dimasjid terdekat. Zhafira kembali ke ruangan Dr. Nurina. Kini Zhafira telah duduk berhadapan dengan Dr. Nurina. Dr. Nrunia menghela nafas dahulu lalu berkata
                “Setelah saya melakukan pemeriksaan pada anda. Ternyata terdapat beberapa factor yang menyebabkan mengapa sampai sekarang anda tidak dapat hamil yaitu, karena adanya kelainan hormone. Ini disebabkan karena kurangnya hormone leutin dan hormone perangsang folikel yang dapat menyebabkan sel telur tidak dapat dilepaskan atau tidak dapat melakukan ovulasi. Sehingga sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma”. Dr. Nurina menjelaskan
                “Apa itu berarti bias dikatakan saya mandul dok?” Tanya Zhafira. Gelisah dihatinya kian terasa.
                Dengan ekspresi yang tidak dapat di tutupi Dr. Nurina mengangguk dan berkata “Maaf. Sepertinya memang begitu”. Tanpa terasa butiran air mata jatuh dikedua pipi Zhafira. Sungguh Zhafira tidak kuat menerima kenyataan yang baru saja didengarnya.
                “Ya Allah apa lagi yang Engkau rencanakan?”. Ucapnya dalam hati.
***
                Stelah kenyataan yang dihadapinya waktu itu. Zhafira sering merenung sendiri. Dia berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam. Perubahannya ini sangat terlihat dari sifatnya. Suatu pagi mereka sedang duduk sarapan dimeja makan. Mas Hadi bertanya pada Zhafira ada apa dengan dirinya.
                “Dik. Mas perhatikan akhir-akhir ini adik banyak diam. Ada apa dik? Berbagilah dengan mas jika adik sedang gundah”.
                Zhafira kaget karena mendengar pernyataan yang keluar dari mulut suaminya, tapi itu tidak lama. Setelah itu dia terdiam lagi dan pandangannya menerawang.
                “Dik”. kata Mas Hadi membangunkannya dari lamunan.
                “Eh iya mas. Maaf. Saya tidak apa-apa kok mas”. Ucapnya berbohong.
                “Maaf mas saya belum bias menceritakannya sekarang. Saya masih belum bias terima ini semua”. Ucapnya lagi dalam hati.
                6 minggu lamanya perubahan sifat Zhafira itu terjadi. Kini dia telah sadar tidak ada gunanya dia bersikap seperti itu. Kini dia sudah ikhlas untuk menerima kenyataan bahwa dia tidak dapat memberikan anak untuk suaminya. Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan masalah ini kepada suaminya.
                Suatu ketika ia iseng pergi ketempat kerja suaminya sambil membawakan makan siang. Dia melihat suaminya sedang mengobrol sambil asyik makan dikantin rumah sakit bersama dengan seorang dokter perempuan. Mas Hadi adalah seorang dokter juga. Dr. Hadi Wijaya. Zhafira sempat terdiam ketika melihat itu tapi, dia langsung menepik pikiran buruknya. Dengan menguat-nguatkan diri dan tersenyum dia berjalan mendekati suaminya.
                “Dik Zhafira”. Kata mas Hadi terkejut.
                Zhafira hanya tersenyum.
                “Ada apa dik?” tanyanya cemas.
                “Tidak ada apa-apa mas. Saya hanya ingin mengunjungi mas dan membawakan makanan untuk mas”. Kata Zhafira lembut sambil tersenyum.
                Hadi langsung melihat plasrik yang ada ditangan Zhafira, lalu mengambilnya. “makasih dik”. ucapnya.
                “oh iya dik. perkenalkan ini Dr. Syifa, teman mas”. Syifa tersenyum lalu menjabat tangan Zhafira dan berkata
                “Syifa”.
                “Zhafira”. Jawab Zhafira lembut.
Mereka pun larut dalam suatu obrolan.
                Diperjalanan pulang Zhafira kembali merenung. Dia merenungi tentang Syifa, teman suaminya. Ada rasa cemburu ketika dia melihat suaminya mengobrol dan terlihat sangat akrab dengan Syifa. Syifa sangat anggun dimatanya, dia juga terlihat sholeha, sosok wanita yang lembut, dan dia terpikir akan satu hal.
                Seminggu setelah pertemuannya dengan syifa. Zhafira membuat janji untuk bertemu dengan Syifa.ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Setelah bertemu dan bertanya kabar masing-masing, lalu mengobrol sedikit tentang apa saja. Akhirnya pada saat waktu yang pas Zhafira pun mengutarakan maksudnya mengajak syifa bertemu. Setelah mendengar pernyataan Zhafira, Syifa kaget dan tidak percaya atas permintaan Zhafira.
                “Maaf Zhafira saya tidak dapat memenuhi permintaanmu. Saya tidak ingin menyakitimu. Walau jujur saya akui, saya mencintai suamimu mas Hadi”.
                “Saya tidak akan terluka Syifa. Saya memintamu untuk menikah dengan mas Hadi dan menjadi madu saya ini dengan penuh kesadaran. Saya ikhlas Syifa untuk berbagi kebahagiaan denganmu asalkan engkaupun ikhlas untuk berbagi kebahagiaan denganku”.
                Syifa menatap lurus kedalam mata Zhafira.
                “Ya Allah. Apa yang harus saya lakukan? Sungguh hebat wanita yang kini ada dihadapan saya. Semoga saja saya tidak menyakiti hatinya”. Guman Syifa dalam hati.
                Malamnya, setelah sholat isya berjamaah. Mas hHadi dan Zhafira duduk bersantai menonton tv diruang keluarga. Setelah merasa waktu yang tepat Zhafira pun bicara.
                “Mas. Ada yang ingin saya katakana”.
Mas Hadi menoleh melihat Zhafira, dia menunggu tanpa bicara.
                “Sejujurnya tanpa sepengetahuan mas saya pergi memeriksakan diri ke dokter. Saya ingin tahu apa penyebab kita sampai sekarang tidsk dikaruniai seorang anak. Setelah pemeriksaan berlangsung ternyata didapat adanya kelainan hormone pada diri saya. Sehingga saya tidak dapat hamil”.
Air mata mulai turun dari kedua bola mata Zhafira. Mas Hadi masih diam tak tau harus bagaimana dan berkata apa.
                “Dan dengan keadaan saya yang seperti ini. Saya ingin meminta keikhlasan mas untuk membagi cinta mas pada perempuan selain saya. Saya ingin mas menikah lagi”.
Mas Hadi kaget, dengan sedikit marah dia berkata
                “Ridak semudah itu dik untuk membagi cinta. Walaupun kau tidak dapat memberikan seorang anak bukan berarti aku harus menduakanmu dik. aku tidak setega itu dik, tulus aku mencintai dan menyayangimu apa adanya , aku tidak berharap banyak padamu dik. aku menyayangimu dik ibarat seseorang yang member tanpa harus menerima balasan. Dapat hidup didampingi olehmu saja, aku sangat bersyukur dik. tidak mudah buatku menduakanmu dik. Tidak!”
Air mata mulai mengalir dikedua pipi mas Hadi. Zhafira pun masih menangis. Hatinya semakin sakit mendengar pernyataan dari mas Hadi.
                “Mas. Sesungguhnya aku pun tak mau seperti ini. Aku hanya ingin aku satu-satunya wanita yang kau cintai. Satu-satunya wanita yang pertama kali kau lihat menyapamu ketika kau terbangun dipagi hari. Satu-satunya yang dapat mendampingimu samapi akhirnya salah satu dari kita dipanggil Allah. Sungguh akupun sangat mencintaimu mas. Tapi, aku mohon mask u lakukan semua ini demi kebahagiaan kita bersama”.
                “Sungguh aku masih tidak bias menerima semua ini dik tapi, baiklah aku akan turuti apa keinginanmu”.
                “Maaf sebelumnya mas. Aku lancing lagi melakukan sesuatu tanpa seizinmu dulu. Tanpa sepengetahuanmu aku telah bertemu dengan Dr. Syifa dan aku memintanya untuk menjadi istrimu mas. Karena aku lihat dia adalah wanita yang baik dan sholeha. Ini akan menambah indahnya istana kita”.
***
               

                “Saya terima nikah dan kawinnya Nur Syifa Al-Latifah binti Sudarso Hartono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar Rp. 77.000 dibayar tunai”.
Kata “Sah” dari para wali mensahkan pernikahan mas Hadi dan Syifa pada hari itu. Zhafira sebagai istri pertama pun hadir dan tersenyum bahagia.



Ya Allah jika ini kehendakMU
Maka aku ikhlas menerimanya
Aku memang mencintainya
Tapi, aku lebih mencintaiMU Ya Allah
Ikhlas ku berbagi dengannya
Karena ini adalah yang terbaik dariMU
Izinkanlah aku menghiasi istana cinta itu
Dengan berbagi kasih diantara kami
Kini, dalam taman istana cinta
Ada dua bunga indah yang menghiasinya

0 komentar:

Posting Komentar