Buscar

Ingatlah itu... !

Ketika mata kuliah Ilmu Perilaku dan Etika Profesi, dosenku membahas tentang materi mutiara kata. Dan dalam tampilan slide, ada berbagai macam mutiara kata tentang kehidupan. Dan satu kalimat mutiara kata yang paling ku ingat, yaitu “kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan menebatnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak perduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya tetap tinggal”. Ketika membaca tulisan itu, ingatanku membawaku kemasa silam, dimana luka pernah tergores dalam hatiku dan hingga sekarang sulit sekali memaafkan orang yang telah menggoreskan luka itu, meski dia telah meminta maaf dan meski dia telah bersikap baik padaku tapi tetap saja, aku tak bisa sepenuhnya memaafkannya.

Aku akan bercerita sedikit tentang masa itu, aku bukanlah seseorang yang pintar, bukan juga seseorang yang cantik secara fisik, tak ada yang bisa di banggakan dari diriku. Aku selalu ingat jika dari kecil aku selalu diperlakukan tidak adil, tidak ada yang pernah benar-benar berteman denganku. Dan sekarang aku dapat mengambil kesimpulan bahwa, hanya seseorang yang menarik secara fisik dan pintar yang dapat diterima dunia. Jika dia tidak pintar tetapi, cantik maka dunia masih dapat menerimanya, begitu juga sebaliknya. Maka kini, yang aku ingin lakukan hanyalah membuktikan pada orang itu bahwa aku lebih baik dari dia, aku tak seburuk yang dia pikirkan, dan dia telah salah menilaiku, aku bukan seseorang yang lemah yang hanya menurut pada takdir. Aku harap jika bertemu dengan dia aku dalam keadaan yang lebih baik dari dia.
Dan jika aku mengingat seseorang yang telah melukaiku itu, ada rasa marah yang kurasakan. Membuat rasa benci semakin menjadi. Teringat ketika dia meremehkanku, ketika dia secara tak langsung merendahkanku dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang. Aku tak bisa dengan jelas menceritakannya, cukup aku sendiri saja yang tau.

Sebenarnya ingin melupakan semua, ingin memaafkannya tapi, semua diluar kendaliku jika aku mengingat semua perlakuannya rasa benci itu hadir. Dia juga telah memilih untuk pergi, dan aku menutup jalan untuk kembali. Tapi, dia masih saja ingin tau bagaimana kehidupanku, masih mengawasiku. Tak mengertikah jika aku ingin kamu pergi ya pergi saja jangan kembali lagi. Aku tau dia akan membaca tulisanku ini, biar saja. Biar dia tau bahwa aku tak ingin bertemu lagi dan aku ingin mengingatkan padanya tentang satu hal.
“Bahwa kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan menebatnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak perduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya tetap tinggal”.

ingatlah itu agar kau tidak menusukkan pisau pada orang lain selain aku, cukup aku yang merasakannya karena orang lain belum tentu bisa seperti aku yang tetap kuat meski seperih apapun luka itu. Ingatlah itu agar kau tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Dan akupun akan mengingat itu agar aku tidak melakukan kesalahan sepertimu.

0 komentar:

Posting Komentar